Meneladani Muhammad sebagai Ekonom Ulung


Meneladani Muhammad sebagai Ekonom Ulung

Teladan dan contoh terbaik bagi manusia adalah Rasulullah Muhammad SAW. Beliau adalah teladan hidup yang menyemai banyak kebaikan dalam rangkaian keindahan hidup. Dari beliau juga bisa kita ambil teladan bagaimana merintis, mengelola dan mengembangkan bisnis secara lurus dan bersih. Beliau telah memancangkan tonggak teladan untuk meraih sukses menjadi entrepreneur secara benar. Keteladanan yang akan senantiasa layak diikuti setiap generasi dari semua generasi sekarang maupun yang akan datang.

Ekonomi yang mapan dari ummat muslim menjadi salah satu tumpuan misi Islam yang dibawa oleh Rasulullah, sebab seperti yang diungkapkan Al-Faruqi, “Rahmat Islam yang universal akan sia-sia, jika ia tidak berhasil menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi semua orang. Klaim-klaimnya akan hampa jika tidak mampu meningkatkan kondisi material masyarakat”. Bahkan jauh-jauh hari Allah Swt, telah mengingatkan kita harus was-was / khawatir jika meninggalkan anak cucu dalam keadaan lemah, (QS.Annisa’ ayat 8), lemah disini bisa lemah fisik, lemah mental, lemah ekonomi maupun lemah akidah. Kerapkali kemiskinan membawa kekafiran. Betapapun bagus dan sempurnanya ajaran al-Qur’an, termasuk ajaran berekonomi, akan sulit dilaksanakan tanpa vigur yang berhasil memberikan contoh aplikasif maka Rasulullah Saw adalah terjamah aplikatif dan akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an, begitu diwartakan Siti Aisyah Ra. Muhammad Saw. adalah profil teladan, sebagai makhluk pribadi, sebagai makhluk sosial, kepala keluarga, peminpin masyarakat, sebagai ekonom, tokoh politik maupun pembaharu budaya.

Ekonomi Yang Utuh

Tolok ukur seseorang pada suatu bidang kehidupan seperti ekonomi, terjadi pada sisi teori, sisi praktisi dan kedua-duanya. Tolok ukur pada sisi teoritis memunculkan sosok ahli ekonomi (economic scintist/ekonom), yang jika kepakarannya mumpuni maka layak disebut sebagai begawan ekonomi. Dan tolok ukur pada sisi ekonomi praktis menempatkannya sebagai pelaku bisnis atau pengusaha. Tapi tidak setiap pakar ekonomi dengan sendirinya menjadi pengusaha sukses demikian sebaliknya. Dan setiap kesuksesan ilmiah maupun lapangan tidak boleh dilepaskan dari segi nilai. Sebab ekonomi tidak pernah menceraikan nilai. Sejak pandangan ekonomi Yunani kuno yang mendasarkan atas keadilan filosofis, hingga para pemikir ekonomi sekarang, percaya akan pentingnya etika dalam usaha dan bisnis kata Daliar Nur, sehingga kesuksesan ini mencakup aspek kuantitatif dan kualitatif sekaligus. Maka ada tiga hal yang akan membentuk keutuhan sosok seseorang sebagai ekonom, yaitu aspek nilai, aspek keilmuan dan aspek aplikatif. Ketiga aspek tersebut tidak selalu ada pada diri ahli ekonomi dan kalaupun ada, tidak dalam formatnya yang lengkap dan sempurna selengkap yang ada pada diri Rasulullah Saw. Sebagai seorang ekonom, ketiga aspek tersebut terwujud secara seimbang pada pribadi Nabi Saw, sehingga menempatkannya sebagai ekonom yang utuh dan ulung. Hal ini dapat kita analisa sebagai berikut. Dalam kapasitas Muhammad sebagai manusia pilihan (Rasul) Allah, sebagai agent pembawa nilai-nilai absolute dan sakral yang memberi makna pada setiap bidang kehidupan termasuk ekonomi. Nilai, norma dan hukum sebagaipetunjuk ekonomi yang Rasul ajarkan hanyalah yang bersifat global dan universal, sesuai dengan fungsinya sebagai petunjuk agama. Beliau tidak perlu mengajarkan nilai-nilai teknis yang bisa dipercayakan kepada masyarakat sendiri menurut zamannya masing-masing. Dan dalam posisi (tataran) ilmiyah, beliau mengajarkan dan mencontohkan tentang wawasan yang aplikatif. Prinsip yang diajarkan adalah ilmu untuk amal, bukan ilmu hanya untuk ilmu semata. Bekal ilmiah sebagai petunjuk, Nabi peroleh dari wahyu. Sedang bekal ilmiah tekstual Nabi petik dari kontak sosial dan pengalaman. Muhammad belajar bagaimana cara berdagang kepada pamannya, kepada saudagar wanita (Khadijah) yang kemudian menjadi isterinya. Bahkan kepada pembantunya Maisarah. Dan bertani, Nabi tidak segan belajar kepada orang Madinah ihwal teknik reproduksi kurma yang berhasil untuk memastikan kebenaran Al-Qur’an, “ Kami kirimkan angin itu untuk mengawinkan” surah (Al-Hijr,ayat 22), sehingga Rasul mengatakan antum a’lamu biumuuri dun yakum. Pada segi aplikasi, kecermatan telah membawa Muahammad ke puncak keberhasilan. Dalam kemitraan dagang dengan Khadijah yang mana ia mengedepankan sifat shiddiq, amanah dan fathanah yang mengantarkannya sebagai pedagang komoditas ekspor ke Syria, menjadi dasar baginya mendapat persentase keuntungan lebih besar. Bahkan Khadijah kemudian meminta Muhammad untuk menjadi suaminya.

Artikel ini mengingatkan kita untuk meneladani sikap daan sifat Raslullah, termasuk Meneladani Muhammad sebagai Ekonom Ulung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s