Sinar Ajaran Ekonomi Rasulullah


Sinar ajaran ekonomi rasulullah saangat menginspirasi ummat Islam dalam menjalankan kegiatan ekonomi, bisnis, usaha, berdagang, dan sebagainya. Di bawah ini saya menuliskan beberapa sinar ajaran ekonomi rasulullah.

Sinar Ajaran Ekonomi Rasulullah

Berikut ini beberapa pandangan ekonomi Rasulullah yang menjadi ajaran bagi kita:

Kesucian harta.

Objek ekonomi adalah harta, bagaimana memperolehnya untuk memenuhi kebutuhan hidup individual, keluarga maupun masyarakat. Kecuali harta, manusia memang perlu layanan atau jasa, tetapi dalam visi ekonomi layanan akan selalu dinilai secara material. Dalam ajaran Rasulullah, harta adalah karunia Allah / fadh lullah (QS.Annaml, 40), maka pada dasarnya harta

adalah baik dan merupakan hiasan hidup manusia (QS.Ali Imran,14), sebagai alat pembersih jiwa melalui (zakat) dimana salah satu hikmah zakat fitrah itu adalah thuhratallish shoimi minallaghwi warrafats, (HR.Darul Quthniy) dan sekaligus merupakan alat untuk mendekatkan diri kepada Allah (QS.Attaubah ayat 41). Karenanya harta adalah mulia, sesuatu yang suci secara fungsional dan harus tetap dipelihara kesuciannya. Ditempatkan pada jajaran kesucian agama, jiwa dan kehormatan. Ketika haji wada’ Rasulullah bersabda” wahai manusia, sesungguhnya harta kamu adalah suci seperti sucinya tanah harama ini, hari arafah ini, di bulan haram ini dan dinegeri haram ini” dan beliau bersabda lagi ”Siapa yang terbunuh karena membela hartanya maka ia mati syahid”.

 

Keterpaduan Harta Dengan Manusia.

Harta bukan segala-galanya, karena tidak dengan sendirinya mampu menyelesaikan persoalan. Harta adalah alat yang manfaatnya tergantung pada kualitas manusia yang menggunakannya. Harta dapat menjadi cobaan atau fitnah “Setiap ummat ada fitnahnya dan fitnah ummatku adalah harta”. (HR.Turmuzy). Harta itu mampu mengangkat derajat orangnya tetapi bisa juga menghancurkan martabat seseorang. Bagi masyarakat sendiri harta yang ada di tangan manusia yang rakus dan licik akan beralih fungsi jadi alat penindas. Karena itu Rasulullah mengajarkan agar harta berada ditangan manusia shalih, beliau bersabda ”Sebaik-baik harta adalah harta halal yang di tangan orang yang shalih” (HR.Ahmad). Manusia shalih adalah yang baik secara moral dan mampu mengelola harta secara ekonomis. Karenanya Rasulullah menetapkan pencekalan (al-hajr) terhadap orang yang boros atau kurang pandai membelanjakan hartanya dan menetapkan pengampuan (wilayah) atas harta-harta anak yatim. Dalam keterpaduan harta dengan orang, Rasulullah menolak keuntungan dari harta (kapital) yang tidak disertai tenaga atau resiko. Dan mencontohkan model usaha joint venture dalam bentuk qiradh yang mempertemukan investor dengan pengelola dana.

 

Tipe Pelaku Ekonomi.

Rasulullah menjunjung tinggi kesejahteraan ekonomi rakyat. Beliau bangga melihat ummatnya yang berkecukupan. Mereka diperintahkan memberikan kontribusi bagi pembangunan kesejahteraaan ekonomi masyarakat sambil menekankan bahwa setiap pengeluaran untuk kepentingan ini adalah penambahan aset masyarakat yang pada gilirannya menguntungkan mereka juga. Kepada yang belum berkecukupan diberikan dorongan untuk tak henti-hentinya ulet berusaha (sabar). Tipe pelaku ekonomi dalam ajaran Islam ada dua yaitu kalangan berkecukupan yang kontributif (al ghaniyusy syaakir) dan orang yang berkekurangan yang rajin berusaha (al faqirus shaabir) pada suatu hari datang kepada Rasulullah seorang pemuda yang tubuhnya begitu kekar dan atletis, lalu pemuda tersebut bermohon kepada Rasulullah agar Rasul mau mendo’akan pemuda tersebut kiranya diberi Allah rezeki yang banyak, oleh Rasulullah bertanya kepada pemuda tersebut “apa yang ada di rumahmu” ? pemuda tersebut menjawab bahwa yang ada di rumahnya sehelai selimut tebal, lalu Rasulullah Saw, menyuruhnya membawakan selimut dimaksud, setelah pemuda tersebut membawakan selimut dimaksud, maka Rasulullah menawarkan selimut tersebut kepada para shahabatnya, lalu salah seorang shahabat mau membeli selimut pemuda tersebut dengan 3 (tiga) dirham, oleh Rasulullah membelikan uang penjualan tersebut kepada kampak, tali dan bahan makanan, selanjutnya Rasulullah menyerahkan semua hasil penjualan selimut tersebut kapada sipemuda sambil berkata pulanglah wahai anak muda dan jangan engkau datang kepadaku selama tiga hari setelah tiga hari pemuda dimaksud datang menghadap Rasul sambil tersenyum gembira karena ia telah mempunyai pekerjaan untuk menghidupi diri dan keluarganya, berkenaan dengan keadaan tersebut Rasulullah bersabda, “Seandainya seseorang kamu pergi membawa tali,lalu pulang membawa seikat kayu api, lalu dijualnya, dengan jalan begitu ia telah menjaga kehormatannya, itu lebih baik dari pada meminta minta, diberi atau tidak” (HR.Bukhary Muslim), selain dua tipe ini hanya sebagai beban bahkan perusak ekonomi.

 

Efisiensi Sumber Daya Ekonomi

Nabi Muhammad Saw sangat sadar akan penggunaan sumber daya ekonomi. Muhammad Saw tidak suka melihat kulit binatang yang telah mati menjadi tersia-sia. Dalam berbagai kesempatan ia membangun sikap dikalangan umat tentang penggunaan sumber daya yang intensif dan efisien. Dimulai dari hal-hal kecil; seperti menghabiskan sisa-sisa makanan di anak jari untuk menerangkan secara eksplisit larangan membuang apa saja yang bernilai. Acap kali Rasul melarang yakni menyia-nyiakan sumber daya dan secara tegas pelakunya dicap sebagai saudara syaitan. Rasulullah juga memerintahkan penggunaan sumber daya alam secara cermat dan hati-hati, serta optimalisasi pemanfaatannya. Nabi sangat keras terhadap bentuk perusakan sumber daya alam dan tidak mau mentolerirnya sekalipun dalam situasi perang, kecuali terpaksa. Demi pemeliharaan dan pelestarian sumber daya alam, ia perintahkan orang-orang untuk tetap menanamkan biji yang masih ada di tangan, meskipun sekiranya besok dunia akan kiamat. Pemeliharaan dan pelestarian sumber daya alam lebih ia tekankan dari pada pemanfaatannya. ”Tiadalah suatu tanaman yang kamu tanam lalu dimakan oleh burung, manusia atau binatang lainnya, kecuali baginya nilai shadaqah”. (HR. Bukhary).

 

Perhatian Terhadap Pasar

Tak diragukan lagi fungsi pasar demikian penting dalam ekonomi. Lalu lintas dan mekanisme secara kuantitatif maupun kualitatif tercipta di pasar. Karena perekonomian yang sehat didasarkan atas mekanisme pasar, maka disamping prinsip keleluasaan (kebebasan) harus ditegakkan pula prinsip keadilan di pasar. Dan ini akan tergantung pada pelaku ekonomi atau bisnis di pasar itu sendiri. Karenanya pasar harus diamankan dari tangan-tangan curang dan culas yang atas nama kebebasan pasar mengeruk keuntungan untuk dirinya sendiri, tanpa suatu pertimbangan etika dan rasa keadilan yang memberi peluang wajar bagi pelaku ekonomi lainnya untuk sama menikmati arti kebebasan pasar. Menyadari posisi pasar yang strategis, Rasulullah mengarahkan potensi pelaku bisnis (pengusaha) muslim sejak kedatangannya di Madinah untuk masuk pasar yang selama ini dikuasai oleh prilaku bisnis ala yahudi, sehingga akhirnya pasar berada di bawah kontrol pengusaha muslim dan perilaku bisnis yang adil. Untuk memantapkan fungsi pasar, Rasulullah pernah menolak untuk menentukan standart harga-harga barang atau Assu’ru. Tapi iapun menyampaikan warning atau tahzir agar tidak ada memasang harga secara berlebihan atau almughalah dan menyebut keuntungan yang diperoleh dengan cara demikian sebagai keuntungan yang buruk dan berdosa (ribhun fahisy). Muhammad Saw. mencontohkan dengan diambilnya langkah preventif terhadap cara-cara pencegatan barang komoditi agar tidak masuk pasar, supaya bisa dibeli dengan harga di bawah standart dengan mengeksploitasi harga pasar. Dalam hadis disebut dengan tallaqi arrukban. Hal tersebut akan merugikan pedagang. Untuk mendukung efektifitas kebijakan preventif, Rasulullah pun terjun untuk mengadakan inspeksi mendadak ke pasar. Diperiksanya kualitas barang-barang dagangan. Ketika ditemukan adanya manipulasi, yaitu ketika Rasul memasukkan jarinya ke dalam makanan ternyata bagian bawahnya basah (basi), langsung beliau katakan “Siapa yang membuat manipulasi maka bukan ummat kami”(HR.Ibn Majah). (Vide. Sejarah sebab timbul Hadis, Drs.Munawwar, et-al, hal.52) di samping Rasulullah memberi tindakan preventif juga ia memberi tabsyir sekaligus targhib melalui haditsnya bahwa “ Pedagang yang jujur dan benar nanti di hari kiamat bersama orang-orang yang mati syahid”(HR.Ibnu Majah, Hakim) .Vide Halal dan haram dalam Islam, hal.200). Ketika keadilan pasar terganggu, ternyata langkah preventif maupun represif (tarhib) yang dilakukan oleh Rasulullah berhasil meminimalisir ketidak adilan pasar tesebut, maka memahami petunjuk ini para Ulama membenarkan suatu campur tangan pemerintah dengan penetapan harga bahan-bahan pokok misalnya, jika kebijakan itu diperlukan. Vide.Uswah, Nomor 25 tahun 2001 hal, 21. Salah satu bentuk ketidak adilan pasar adalah monopoli/menimbun (ihtikar) dalam arti bahwa sipenjual suatu barang menjual barangnya lebih sedikit dengan harga yang lebih tinggi karena tidak ada penjual lain. Untuk mengantisipasi sikap ihtikar tersebut Rasulullah mengatakan: “Barangsiapa yang melakukan ihtikar untuk merusak harga pasar sehingga harga naik secara tajam maka ia berdosa”. (HR. Ibnu Majah, Ahmad). Maka untuk melindungi hak penjual dan pembeli untuk menentukan harga, sekaligus melindungi hak keduanya, Islam sangat menghargainya yang mana dalam istilah fiqih disebut “Haqqul ghair muhafazun alaihi syar’an“, hak orang lain di jaga oleh syara’. Dengan demikian untuk melindungi hak pembeli dengan penjual maka para ulama membenarkan pemerintah ikut campur tangan terutama dalam hal penentuan standart harga bahan-bahan pokok, karena pemerintah itu induknya pasar dan sekaligus berfungsi: ”Tasharruful imam ‘ala arra’yah manutun bilmaslahah”. (Vide. Ekonomi Islam suatu kajian Kontemporer, hal 31).

Kesucian harta, keterpaduan harta dengan manusia, tipe pelaku ekonomi, efisiensi sumber daya ekonomi, serta perhatian terhadap pasar, merupakan sinar ajaran ekonomi Rasulullah yang harus kita teladani dalam menjalankan usaha.

2 thoughts on “Sinar Ajaran Ekonomi Rasulullah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s