Konvergensi IFRS di USA


 Konvergensi IFRS di USA

Konvergensi IFRS di USA tidak serta merta diterapkan begitu saja, tetapi melalui beberapa proses dan persetujuan. Amerika Serikat adalah negara yang memprakarsai berdirinya IASC. Namun, awalnya negara tersebut tidak serta merta menerapkan IAS sebagai standar akuntansi dan pelaporan keuangannya. Hal ini dikarenakan, Amerika tetap ingin mempertahankan penggunaan US GAAP sebagai standar akuntansi dan pelaporan keuanganya serta keinginan Amerika untuk tampil berbeda dengan negara-negara yang lain.

Para praktisi dan ahli akuntansi keuangan di Amerika beranggapan bahwa US GAAP, yang sebagian besar merupakan produk-produk FASB, adalah standar akuntansi dan pelaporan keuangan yang lengkap dan sudah memadai. Namun, anggapan tersebut memudar ketika terjadinya mega skandal yang melibatkan koorporasi-koorporasi raksasa seperti Enron, Adelphia, Worldcom dll. Kejadian tersebut mengindikasikan lemahnya standar akuntansi dan pelaporan keuangan di Amerika. Para ahli bahkan beranggapan bahwa US GAAP sebetulnya penuh masalah karena terlalu “rule based” memberikan aturan sampai ke hal-hal kecil.

Sifat US GAAP yang “rule based” tersebut telah memberikan motivasi bagi para pelaku “kejahatan” di Amerika untuk melalukan aggressive accounting dan creative accounting dengan cara mencari-cari celah yang ada di standar akuntansi dan pelaporan keuangan tersebut agar dapat melakukan kecurangan. IFRS dianggap lebih “principle based” dan hal-hal kecil dalam IFRS cukup diatur dengan interpretasi atas aturan pokoknya. Hal ini membuat IFRS lebih supel dan menyeluruh, walaupun rawan akan interpretasi yang beragam.

Akhirnya Konvergensi IFRS di USA pun bisa diterapkan hingga saat ini. Bahkan, awal 2012, Indonesia mengikuti jejak Konvergensi IFRS di USA. Yaitu mulai menerapkan standar akuntansi internasional IFRS bagi perusahaan go-public.

3 thoughts on “Konvergensi IFRS di USA

  1. Assalamualaikum, mbak Uci, saya Donny,mau menambahkan sedikit saja, untuk paragraf terakhir yg mengatakan “Akhirnya Konvergensi IFRS di USA pun bisa diterapkan hingga saat ini. Bahkan, awal 2012, Indonesia mengikuti jejak Konvergensi IFRS di USA. Yaitu mulai menerapkan standar akuntansi internasional IFRS bagi perusahaan go-public”. menurut saya kurang tepat karena AS sendiri akan melakukan konvergensi pada tahun 2015 akibat “political environment” yg ada di negara tsb. Indonesia bukan mengikuti jejak AS dalam melakukan konvergensi ke IFRS, namun akibat Indonesia merupakan anggota G-20 yg menyepakati poin mengenai masalah transparansi lap keu utk meningkatkan akuntanbilitas lapkeu tsb, terlebih pd pihak investor.

    Sedikit informasi, AS dan Jepang, dua negara adidaya yg maju dalam segala hal lingkup kehidupan, dr mulai gaya hidup, pendidikan, hingga teknologi, namun kedua negara tsb belum melakukan konvergensi ke IFRS, namun masih dalam tahap persiapan utk menimbang dll, di sini ada tulisaan dr status saya sebagai berikut, cocok utk dijadikan bahan diskusi😀

    Amerika Serikat dan Jepang terlihat ‘alot’ dan ‘ogah-ogahan’ untuk mengadopsi IFRS. Padahal mereka bilang akan mengadopsi tahun 2015, tapi justru bukannya mempersiapkan malah cenderung menguatkan standar GAAP mereka masing2, contohnya AS mengeluarkan American Standard Codification dan gencar2nya diajarkan di PT sana sehingga para mahasiswa dipusingkan dg dua standar. SEC (Bapepam AS) melihat terdapat beberapa kelemahan standar yg sangat riskan. Begitu juga dengan Jepang, Asosiasi Bisnis Jepang menolak secara terang-terangan untuk pengadopsian IFRS dg alasan manfaat yg didapat tidak sebanding dg energi dan biaya yg sudah dikonsumsi serta pemerintahannya terkesan ‘setengah hati’ dalam menentukan kepastian pengadopsian.

    Tiga perwakilan AS di IASB pun terancam dikeluarkan jika sampai akhir tahun ini AS belum memberi kepastian untuk mendukung IFRS secara penuh. Ketidakpastian AS juga diperkuat dengan pernyataannya yg terakhir yang mengatakan bahwa AS menyetujui ada satu standar global, tapi AS menambahkan tidak melihat adanya urgensi bagi AS untuk menerapkan IFRS.

    Yang lebih ekstrem lagi, IASB mengeluarkan pernyataan bahwa IASB sendiri secara terang-terangan mengakui saat pertemuan di Beijing minggu lalu, “Jika AS tidak mau berkonvergen, IFRS akan bubar!”.

    Terlepas dari itu semua, pengaruh dua negara raksasa ekonomi yang dapat ‘mengendalikan’ semuanya, baik dari segi teknologi, pendidikan, pengaruh bisnis, maupun diperkuat dengan pengaruh political environment yang luas membuat IASB–sebagai badan yg mengeluarkan IFRS–ketar-ketir dan turun tangan dalam menangani perilaku kedua negara ini.

    Ironisnya, buku akuntansi yg notabene keluaran AS (Kieso,Spiceland,or whatever you name it) mengajarkan akuntansi berbasis IFRS dan proses konvergen AS menuju IFRS namun AS tidak memiliki kepastian untuk mengadopsi IFRS, bahkan menguatkan GAAP-nya yang disebut ASC-GAAP dan diajarkan ke semua PT di AS.

    Sebuah kejadian yg dramatis melebihi ide liar para sinias perfilman sinetron Indonesia bagi para akuntan, analis keuangan, perusahaan, lembaga akuntansi, dan pemerintah yg mana mereka sebagai peran utama merasa terombang-ambing, tak berdaya, dan selalu teraniaya dalam hal ini.

    Terima kasih atas kehadiran blog ini,menambah referensi utk saing bertukar pikiran, Terima kasih, Mbak Uci. Wassalamualaikum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s