Peran World Bank dalam Akumulasi Utang Indonesia (Bagian 2)


Peran World Bank dalam Akumulasi Utang Indonesia (Bagian 2)

Peran Bank dunia sebagal fasilitator negara-negara kreditor dalam memberikan pinjaman ke Indonesia memiliki peranan yang sangat penting. Oleh karena itu, perilaku lembaga multilateral ini perlu dilihat lebih dalam lagi. Perilaku Bank Dunia dalam menjalankan misinya dipengaruhi peran gandanya di mana kcdua peran itu sesungguhnya sling bertolak belakang (Winters, 1996). Pertarma, peran Bank Dunia merupakan agen pembangunan bagi negara-negara peminjam. Kedua, peran Bank Dunia sebagai bank komersil dan profesional atas dana yang diterima dan dana yang disalurkannya. Peran kedua inilah yang lebih berkaitan dengan kelangsungan hidup dan Bank Dunia sendiri, karena dari keuntungan selisih bunga pinjaman dan bunga simpanan Bank Dunia memperoleh  penghasilannya yang digunakan untuk membayar (dengan mahal) para pegawainya dan dividen bagi para negara pemegang saham.

Posisi yang berlawanan dari kedua peran itu adalah bahwa sebagai agen pembangunan, Bank Dunia wajib mengawasi pelaksanaan proyek mulai dari proses identiflikasi sampai dengan pelaksanaan akhir proyek tersebut. Dengan posisi dan wibawanya, Bank Dunia berhak dan wajib memberhentikan pelaksanaan dan pembiayaan suatu proyek apabila pelaksanaan proyek itu dianggap menyimpang dari ketentuan Bank dunia sebagai agen pembangunan. Akan tetapi, bila hal itu dilakukan, akan menimbulkan ketegangan hubungan antara Bank Dunia dengan pemerintah negara yang bersangkutan dan bisa menyebabkan si penguasa enggan meminjam kembali dari Bank Dunia. Berkurangnya nasabah bagi Bank Dunia merupakan suatu kerugian karena ada beban bunga yang harus dibayarkannya atas dana yang disimpan (dipinjamkan) oleh negara maju kepada bank Dunia, di samping hilangnya nafkah atas dirinya. Pemilihan peran pertama mengurangi peran kedua dan sebaliknya, pemilihan peran kedua mengurangi peran pertama. Oleh sebab itu, karena peran kedua lebih berfungsi terhadap kepentingannya maka kecenderungan yang dilakukan Bank Dunia adalah bersikap sebagai bank komersil.

Kecenderungan atas peran sebagai bank komersil juga tampak dari aliran modal yang terus-menerus masuk kepada negara-negara sedang berkembang, termasuk Indonesia. Belum selesai beberapa proyek berjalan, sudah direncanak an lagi pinjaman untuk beberapa proyek berikutnya. Sepertinya Bank Dunia merupakan sumber mata air piniaman yang tidak pernah kering. Bila pemerintah merupakan rezim yang korup, pinjaman yang terus-menerus itu merupakan sumber korupsi  bagi mereka, sedangkan bagi Bank Dunia hal ini berarti ketcrjaminan bahwa mereka akan memperoleh keuntungan lewat bunga pinjaman – sebagai keterjaminan sumber pendapatan mereka. Bukan berarti proyek-proyek itu tidak penting untuk dilaksanakan, akan tetapi proyek-proyek itu terus dicekoki seolah-olah tidak perlu lagi dilihat kemampuan membayar di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s